Perbandingan antara Pandangan Orang Jawa dan Filsafat Aristoteles
Dewasa ini, dengan mencuatya aneka bentuk perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan sarana komunikasi, peziarahan hidup manusia semakin berada pada dinamika perubahan yang sangat signifikan. Manusia lebih condong mengedepankan karakter individualitasnya di atas prinsip-prinsip tata hidup bersama. Tentu, fenomena ini tak terlepaskan dari fakta bahwa dengan segala bentuk perkembangan fasilitas dan trend gaya hidupnya, manusia telah terbukti mampu melalukan segala aktivitas hidupnya tanpa orang lain. Apakah fenomena ini harus dikatakan sebagai dampak positif dari proses mengalirnya peradaban manusia? Atau justru sebaliknya, apakah fenomena ini merupakan representasi kemunduran proses perjalanan peradaban manusia?
Kita akan merunut jawaban atas persoalan di atas dengan membandingkan dua latar belakang tradisi pemikiran yang berbeda, yaitu tradisi pemikiran Jawa dan tradisi pemikiran Barat. Dari tradisi pemikiran Jawa kita akan menelaah Pandangan Manusia Jawa tentang individu dan hidup bersama. Dan dari pemikiran barat kita akan menganalisa filsafat Aristoteles tentang kodrat manusia.
Tradisi pemikiran Jawa: tempat individu dalam tata hidup bersama
Tradisi Jawa mengakui otonomi invividu. Pengakuan ini terutama tercetus dalam sikap manusia Jawa yang menunjung tinggi hak-hak pribadi. Misalnya adalah hak yang berhubungan dengan tukar-menukar, hutang-piutang, pinjam-meminjam, pembagian warisan, dan lain sebagainya. Dalam perkara-perkara semacam itu manusia Jawa memiliki kesadaran yang sangat tajam.
Namun demikian, harus ditegaskan bahwa dalam pandangan manusia Jawa yang ditekankan tidaklah pertama-tama dimensi otonomi individu atau hak yang dapat dituntut, melainkan dimensi otonomi individu atau hak yang harus diberikan kepada orang lain. Prinsipnya adalah bahwa setiap manusia atau individu memiliki kewajiban menjunjung tinggi hak sesamanya demi kerukunan hidup bersama. Kerukunan dalam pandangan manusia Jawa merupakan prinsip yang paling utama.
Apa itu rukun? Rukun dalam tradisi pemikiran Jawa dipahami sebagai suatu keadaan dan sebagai suatu cara bertindak. Rukun sebagai suatu keadaan berarti keselarasan sosial, atau suatu keadaan di mana semua manusia berada dalam relasi damai satu dengan yang lainnya. Dan rukun sebagai suatu cara bertindak berarti bahwa setiap manusia berani mengorbankan atau menomorduakan kepentingannya sendiri demi kepentingan hidup bersama.
Mengapa dalam tradisi Jawa kerukunan mendapat tempat paling utama? Paling utama karena menurut manusia Jawa dengan kerukunan, maka aneka pertentangan baik itu yang terjadi dalam tataran pribadi maupun dalam horizon sosial, dapat dicegah atau sekurang-kurangnya tidak terejawantah secara nyata. Rukun merupakan cara untuk menyelesaikan pertentangan-pertentangan antara individu-individu yang memiliki kepentingannya sendiri-sendiri. Kedua, kerukunan itu memiliki kedudukan sangat penting karena di dalamnya terdapat paham Jawa tentang keseimbangan emosional yang merupakan sumber kekuatan moral dan sosial.
Apa konsekuensi logis dari paham tentang kerukunan di atas? Konsekuensi logisnya, kepentingan individu menjadi relatif. Kepentingan individu tidak mutlak. Kepentingan individu tidak boleh ditekankan sampai menimbulkan ketegangan yang mengancam kerukunan atau keselarasan tata hidup bersama. Kerukunan berarti bahwa semua pihak harus mau berdamai. Oleh karena itu setiap individu tidak dimungkinkan mengajukan tuntutan-tuntutan yang tidak bisa ditawar-tawar. Sebaliknya setiap individu harus tunduk pada norma-norma kerukunan.
Aristoteles: hidup bersama merupakan representasi kepenuhan kodrat manusia
Tata hidup bersama dan natura manusia. Dua gagasan ini dalam filsafat Aristoteles merupakan satu kesatuan tema yang tak terlepaskan satu dengan yang lainnya. Ide tentang tata hidup bersama mengandaikan penjabaran tentang siapa itu (kodrat atau natura) manusia. Sebaliknya bagi Aristoteles, menjelaskan gagasan tentang kodrat manusia berarti juga menelaah ide tentang tata hidup bersama. Siapa itu manusia? Apa itu tata hidup bersama?
Aristoteles mendefinisikan manusia sebagai makluk politik atau makhluk sosial. Maksudnya bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki kecenderungan kodrati tinggal bersama dengan manusia lain. Atau makhluk yang dapat menggagas hidupnya sendiri dalam kebersamaan dengan manusia lain. Apa dasarnya gagasan ini? Dasarnya adalah fakta bahwa manusia tidak mungkin hidup sendirian. Manusia tidak mungkin hidup tanpa kehadiran pribadi lain. Sebaliknya manusia senantiasa berusaha membangun kesatuan. Seperti yang tertuang dalam literatur sejarah penciptaan, kesatuan yang paling kecil dibangun antara pria dan wanita. Kesatuan ini kemudian memunculkan keluarga, lantas masyarakat dan negara.
Tata hidup bersama dengan demikian – menurut Aristoteles – merupakan sistem yang ada secara natural karena manusia membangunnya. Apa tujuannya? Tata hidup bersama dibangun oleh manusia-manusia sedemikian rupa supaya masing-masing individu tercukupi kebutuhannya. Maksudnya adalah kebutuhan yang tidak sekedar berhubungan dengan hal-hal fisik belaka, melainkan terutama yang dimaksudkan adalah kebutuhan yang langsung merujuk pada cita-cita tertinggi hidup manusia, yaitu the good life. Sampai pada titik inilah, Aristoteles berpendapat bahwa polis atau tata hidup bersama merupakan cetusan paling tinggi dari aktivitas hidup manusia dalam menggapai kesempurnaan dan kebaikan sosialitasnya. Mengapa? Karena di dalam sistem atau tata hidup bersama itulah natura atau kodrat manusia ditemukan.
Perbandingan antara Tradisi Pemikiran Jawa dan Filsafat Aristoteles
Di mana titik temunya antara pandangan manusia Jawa dan Filsafat Aristoteles tentang invividu dan tata hidup bersama? Baik Aristoteles maupun manusia Jawa, keduanya sangat menekankan pentingnya hidup bersama. Bagi manusia Jawa hidup bersama merupakan tatanan yang memiliki nilai tak terbantahkan. Segala kepentingan yang berhubungan dengan kepentingan individu harus tunduk pada kepentingan yang lebih luas, yaitu kerukunan hidup bersama. Aristoteles juga menegaskan hal yang sama. Dengan berpondasi pada fakta bahwa manusia dalam kesendiriannya tidak mungkin mengejar cita-cita kesempurnaan dirinya, Aristoteles berpendapat bahwa tata hidup bersama merupakan cetusan paling tinggi dari segala aktivitas hidup manusia. Hidup bersama merupakan tatanan yang merujuk langsung pada natura manusia dengan cita-cita the good life-nya. Dan karena itu tidak mungkin manusia menegasi keberadaan sistem hidup bersama. Manusia yang menegasi atau menyangkal hidup bersama berarti menyangkal eksistensi dirinya sebagai manusia, karena tatanan hidup bersama adalah cetusan yang paling nyata dari kodratnya sebagai manusia.
Di mana letak perbedaannya antara pandangan manusia Jawa dengan pemikiran Aristoteles? Perbedaannya terletak pada cara memaknai tatanan hidup bersama di satu sisi, dan cara memandang kodrat manusia di sisi yang lain. Manusia Jawa memaknai sistem hidup bersama dengan cara mengorbankan otonomi individu. Di hadapan kepentingan hidup bersama, setiap individu harus menyangkal dan merelatifkan kepentingan-kepentingannya. Seorang tokoh Jawa yang bernama Pangestu menuturkan bahwa seorang manusia ketika berada dalam tuntutan-tuntutan norma hidup bersama, maka ia harus rela, menerima (nrima), legawa (bersikap luhur, tidak menolak), dan sabar. Setiap manusia Jawa memiliki tugas untuk menjunjung tinggi sikap-sikap ini, karena sikap-sikap ini merupakan piranti yang akan mengantarkan seorang manusia pada keselarasan hidup dengan sesamanya.
Berbeda dengan manusia Jawa yang memaknai hidup bersama sebagai sebuah sistem yang kepadanya mereka harus menundukkan dirinya, Aristoteles memandang bahwa tata hidup bersama merupakan sistem yang tercetus karena kehendak masing-masing individu. Individu-individu menghendaki dan membangun sendiri sebuah tata hidup bersama karena – menurut Aristoteles – mereka menyadari bahwa memang di situlah (dalam kebersamaannya dengan yang lain) kepenuhan kodratnya sebagai manusia dapat tertuang secara sempurna. Dalam logika berpikir semacam ini, kemudian tata hidup bersama tidak dipandang oleh individu-individu sebagai tirani yang menghambat dirinya dan kebebasannya untuk mengaktualisasikan dirinya. Sebaliknya sistem hidup bersama justru dipandang sebagai piranti yang akan meniscayakan terejawantahnya the good life, atau self sufficient, atau happiness, sebagai cita-cita tertinggi hidup manusia.
Sekali lagi, sistem hidup bersama – menurut Aristoteles – dibangun pertama-tama agar kebutuhan anggota-anggotanya terpenuhi. Dalam konteks ini individu-individu dipandang sebagai sungguh-sungguh subjek pengelolanya. Oleh karenanya partisipasi aktif anggota-anggota sistem hidup bersama sangat diperlukan. Sampai pada titik ini terlihat secara jelas juga adanya perbedaan antara pemikiran manusia Jawa dan pemikiran Aristoteles. Dalam pemikiran Aristoteles peran aktif masing-masing anggota tata hidup bersama pertama-tama muncul dari kodrat manusia yang memang menghendaki adanya sistem hidup bersama. Sedangkan dalam pemikiran manusia Jawa, apa yang disebut partisipasi aktif dalam menjaga dan mengelola sistem hidup bersama berarti sebuah pengorbanan atau penegasian kepentingan-kepentingan diri sendiri.
Penilaian terhadap fenomena individualisme
Aristoteles dan paham Jawa, keduanya sangat menjunjung tinggi prinsip hidup bersama. Terlepas dari aneka perbedaan cara memaknai hidup bersama, keduanya memandang bahwa hidup bersama merupakan nilai yang memiliki kedudukan sangat penting bagi setiap manusia. Dan karenanya harus diperjuangkan oleh setiap manusia.
Dalam frame pemikiran semacam ini maka dapat dikatakan bahwa individualisme merupakan aliran yang sangat bertentangan dengan hakekat manusia di satu sisi, dan bertentangan dengan prinsip-prinsip hidup bersama di sisi yang lain. Di mana letak pertentangannya? Pertentangannya terletak pada cara mendefinisikan hakekat atau jati diri manusia. Atau dalam bahasa Aristotelian, natura manusia. Dalam individualisme manusia didefinisikan sebagai aku egois. Maksudnya adalah aku yang bertindak hanya demi dan untuk aku sendiri. Tindakan semacam ini menyisihkan kehadiran pribadi lain, menyangkal kepentingan pribadi lain, dan menegasi keberadaan pribadi lain.
Dalam pemikiran Jawa dan juga dalam filsafat Aristoteles, khazanah “aku” juga tercetus dengan jelas. Namun dalam kedua pemikiran ini (Jawa dan Aristoteles) “aku” tidak didefinisikan dengan aku egois, melainkan “aku” subjek. Aku subjek berarti aku yang berpikir dan bertindak sebagai pelaku sejati kehidupan. Aku subjek menyadari bahwa dalam kehidupan ada aku-aku lain, atau pribadi-pribadi lain, kepentingan-kepentingan dan peran-peran pribadi lain. Aku subjek memandang bahwa individu lain bukanlah sungguh-sungguh “lain” sebagai yang bertentangan dengan aku, melainkan sebaliknya justru menjadi alteritasku. Maksudnya, orang-orang lain adalah juga subjek-subjek lain, yang sama dengan aku yang adalah subjek. Pendefinisian semacam ini akan tidak muncul dalam aliran individualisme. Dan justru karena itu individualisme sangat menyepelekan apa yang disebut dengan tata hidup bersama. Dalam individualisme, hidup bersama hanyalah dipahami semata-mata sebagai sejumlah individu-individu, tetapi tidak merupakan sebuah keseluruhan atau kesatuan yang nyata.
PUSTAKA
1. Dr. Phil. Franz Magnis Suseno SJ, dan Dr. S. Reksosusilo CM, Etika Jawa Dalam Tantangan: Sebuah Bunga Rampai, Kanisius, Yogyakarta, 1983
2. DRS. Marbangun Hardjowirogo, Manusia Jawa, Intidayu Press, Jakarta, 1984
3. Dr. Purwadi, M.Hum dan Drs. Djoko Dwiyanto, M.Hum, Filsafat Jawa: Ajaran Hidup yang Berdasarkan Nilai Kebijakan Tradisional, Panji Pusaka, Yogyakarta, 2006
4. Bryan Magee, The Story of Philosophy, (terj), Kanisius, Yogyakarta, 2008
5. Dr. Armada Riyanto CM, Filsafat Politik/Kenegaraan (Filsafat Pancasila), STFT Widya Sasana, Malang, 2000
6. FX. Mudji Sutrisno & F. Budi Hardiman (ed), Para Filsuf Penentu Gerak Zaman, Kanisius, Yogyakarta, 1992
7. Niels Mulders, Kebatinan dan Hidup Sehari-hari Orang Jawa: Kelangsungan dan Perubahan Kulturil, Gramedia, Jakarta, 1984
8. Lorens Bagus, Kamus Filsafat, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1996
Rabu, 04 Februari 2009
AJARLAH AKU UNTUK MENGASIHI
anonim
Ada suatu waktu dalam hidupku ketika dalam doaku sehari-hari, aku minta segala sesuatu yang kuanggap paling wajar dan penting bagi hidupku: sukses, kekayaan, tentu saja, dan kenyamanan serta kebahagiaan; sekelompok sahabat; suatu rumah yang sejati; hidup bersenang-senang dalam kebahagiaan dan sukacita. Ambisi memerintah dalam jalan hidupku, saya ingin melakukan hal hal besar agar seluruh duniaku yang kecil dapat melihat, dan berbisik “luar biasa”.
Ya, Allah yang sabar, betapa butanya kami – sampai cambuk gembalaMu dengan pemurnian yang lembut membimbing kami kepada hal hal yang lebih baik.
Sekarang aku hanya mempunyai suatu permintaan, Tuhan: Ajarlah aku untuk mengasihi! Sungguh inilah kebutuhan saya yang terbesar dan satu-satunya.
Ajarlah saya untuk mengasihi bukan mereka yang lebih dahulu mengasihi saya, namun seluruh dunia dengan kemurniannya yang langka akan keluasan, pikiran yang menjangkau siapa saja tanpa jejak noda duniawi, namun merangkul dalam pelukannya kemanusiaan, dan sepertinya melihat hanya kebaikan dalam segala sesuatu, yang terpancar dariMu Tuhan.
Ajarlah saya , Bapa, untuk mengasihi terutama mereka yang paling membutuhkan kasih. Orang orang yang miskin, sakit, dan malang; yang wajah lelahnya menunjukkan hidup mereka penuh dengan kesedihan. Yang bekerja membanting tulang sepanjang jalan hidupnya, dengan langkah tertatih dan hati berat lebih daripada yang dapat diketahui orang.
Orang yang dilewati orang lain dengan diam-diam, tanpa mengindahkan permohonan dan teriakan minta tolong di antara keributan orang banyak;
Orang yang kegelisahannya membuat mereka dingin dan sombong, pahit, menjengkelkan, cemberut dalam kesedihannya.
Aku ingin untuk memberi mereka hiburan dan bantuan; meletakkan tanganku dalam tangan mereka, dan disisi mereka melangkah maju dengan lembut, membimbing dengan setia dan tak kenal takut.
Ya Penyelamat, Engkaulah Kristus, Kebenaran, senantiasa dekat, bantulah saya untuk menemukan mereka yang hilang, dengan cinta yang besar karena mereka sangat membutuhkan. Bantulah saya untuk mencari dan menemukan apa yang mereka anggap hilang; untuk menyampaikan kata-kata riang, sehingga setiap kali kami lewat padang gurun akan dipenuhi nyanyian.
O, Kasih Ilahi, betapa kosong doa-doa dari tahun yang lalu. Doa yang tadinya begitu wajar, gelembung kosong yang dikatakan dunia sebagai sukacita tak ada artinya bagiku sekarang, hanya mainan rusak, telah terlampaui, telah teratasi. Saya bersyukur kepadaMu karena telah mengetahui impian-impian yang patut lebih dirindukan sejak dulu; seperti kupu-kupu yang telah mengalami musim panas mereka untuk masa sukacita yang singkat, dan kini telah pergi.
Kini aku berdoa untuk hal yang lebih baik. Engkau tahu Tuhan yang di atas, kerinduanku satu-satunya kini : Ajarlah aku untuk mengasihi.
Ada suatu waktu dalam hidupku ketika dalam doaku sehari-hari, aku minta segala sesuatu yang kuanggap paling wajar dan penting bagi hidupku: sukses, kekayaan, tentu saja, dan kenyamanan serta kebahagiaan; sekelompok sahabat; suatu rumah yang sejati; hidup bersenang-senang dalam kebahagiaan dan sukacita. Ambisi memerintah dalam jalan hidupku, saya ingin melakukan hal hal besar agar seluruh duniaku yang kecil dapat melihat, dan berbisik “luar biasa”.
Ya, Allah yang sabar, betapa butanya kami – sampai cambuk gembalaMu dengan pemurnian yang lembut membimbing kami kepada hal hal yang lebih baik.
Sekarang aku hanya mempunyai suatu permintaan, Tuhan: Ajarlah aku untuk mengasihi! Sungguh inilah kebutuhan saya yang terbesar dan satu-satunya.
Ajarlah saya untuk mengasihi bukan mereka yang lebih dahulu mengasihi saya, namun seluruh dunia dengan kemurniannya yang langka akan keluasan, pikiran yang menjangkau siapa saja tanpa jejak noda duniawi, namun merangkul dalam pelukannya kemanusiaan, dan sepertinya melihat hanya kebaikan dalam segala sesuatu, yang terpancar dariMu Tuhan.
Ajarlah saya , Bapa, untuk mengasihi terutama mereka yang paling membutuhkan kasih. Orang orang yang miskin, sakit, dan malang; yang wajah lelahnya menunjukkan hidup mereka penuh dengan kesedihan. Yang bekerja membanting tulang sepanjang jalan hidupnya, dengan langkah tertatih dan hati berat lebih daripada yang dapat diketahui orang.
Orang yang dilewati orang lain dengan diam-diam, tanpa mengindahkan permohonan dan teriakan minta tolong di antara keributan orang banyak;
Orang yang kegelisahannya membuat mereka dingin dan sombong, pahit, menjengkelkan, cemberut dalam kesedihannya.
Aku ingin untuk memberi mereka hiburan dan bantuan; meletakkan tanganku dalam tangan mereka, dan disisi mereka melangkah maju dengan lembut, membimbing dengan setia dan tak kenal takut.
Ya Penyelamat, Engkaulah Kristus, Kebenaran, senantiasa dekat, bantulah saya untuk menemukan mereka yang hilang, dengan cinta yang besar karena mereka sangat membutuhkan. Bantulah saya untuk mencari dan menemukan apa yang mereka anggap hilang; untuk menyampaikan kata-kata riang, sehingga setiap kali kami lewat padang gurun akan dipenuhi nyanyian.
O, Kasih Ilahi, betapa kosong doa-doa dari tahun yang lalu. Doa yang tadinya begitu wajar, gelembung kosong yang dikatakan dunia sebagai sukacita tak ada artinya bagiku sekarang, hanya mainan rusak, telah terlampaui, telah teratasi. Saya bersyukur kepadaMu karena telah mengetahui impian-impian yang patut lebih dirindukan sejak dulu; seperti kupu-kupu yang telah mengalami musim panas mereka untuk masa sukacita yang singkat, dan kini telah pergi.
Kini aku berdoa untuk hal yang lebih baik. Engkau tahu Tuhan yang di atas, kerinduanku satu-satunya kini : Ajarlah aku untuk mengasihi.
BELAS KASIH HARUS DIWUJUDKAN DIMANA SAJA DAN KAPAN SAJA
Rm. Sad Budi CM
Sr Alberta Telaumbanua SCMM (75 th) yang kini pensiun di rumah lansia dan provinsialat Medan mengisahkan pengalamannya mengamalkan belas kasih.
Waktu ditugaskan sebagai kepala asrama putri di Sibolga saya merangkap kerja di sekretariat keuskupan Sibolga. Di samping kesibukan itu, mata saya selalu melihat bila ada kemiskinan, khususnya di suatu kampung kumuh. Saya mengatakan kepada seorang umat yang kaya. Dia tertarik dan ingin tahu, maka saya mengajaknya melihat sendiri. Dia tergerak untuk menolong dengan memperbaiki beberapa rumah mereka selain beberapa pertolongan lain.
Kemudian waktu tugas di Pasaman sebagai ibu komunitas saya sering mengunjungi para transmigran miskin yang tinggal di desa-desa sekitar. Berkali kali saya terjatuh naik motor, beberapa tulang juga sempat patah, namun begitu sembuh saya pergi lagi kunjungi mereka. Pastor parokinya karena orang asing sulit untuk bisa berkomunikasi dengan mereka. Karena itu sangat mengharapkan agar saya bisa mengunjungi mereka, kadang dia mengantar saya dengan mobil. Dari kunjungan kunjungan itu saya mengetahui kebutuhan mereka, dan melaporkan kepada pastor paroki untuk dapat menolong mereka.
Waktu ditugaskan di Jakarta 1993-1998 saya menjadi ibu komunitas. Pastor paroki yang mengenal saya waktu di keuskupan Padang minta saya juga menjadi pengurus panti jompo. Saya agak keberatan karena akibat jatuh berkali-kali saya sulit untuk berjalan. Tapi dia tetap memaksa dan menjanjikan antar jemput. Saya sanggupi asal dia ijin kepada provincial kami. Provinsial setuju. Maka saya menjalan tugas itu dengan senang hati. Para jompo juga senang saya temani setiap pagi. Sore saya kembali ke komunitas. Dalam perjalanan pulang pergi itu saya beberapa kali menjumpai anak anak di jalan dekat rumah kami. Saya sapa mereka dan bertanya kenapa tak sekolah? Dengan polos mereka menjawab: orang tua kami tak punya biaya. Hati saya terusik, saya tanya sana sini apa yang kita bisa buat? Tak ada yang menanggapi. Setiap kali bertemu anak-anak saya tanya apakah mereka mau belajar. Mereka serempak menjawab: mau! Akhirnya saya berketetapan akan mengajar mereka sendiri. Saya ke gereja dan minta papan tulis yang tak terpakai. Pastor memberikannya. Saya bawa ke garasi kami. Saya mulai mengajak anak-anak belajar. Saya kunjungi orang tuanya di gubuk-gubuk dekat kompleks perumahan kami. Mereka senang sekali kalau anak-anak bisa belajar. Jumlahnya makin lama makin banyak. Jelas selain papan, dibutuhkan buku dan alat tulis untuk anak-anak. Saya tak kurang akal. Rumah jompo yang saya pimpin sering dikunjungi ibu-ibu donatur. Saya bilang mereka apa mau memberi buku dan alat tulis untuk anak anak miskin? Dengan senang hati mereka memberi. Saya pikir saya harus mengajar dengan kreatif. Saya bukan guru, walau pernah mengajar TK, dan menjadi ibu asrama, serta mengajar agama. Maka saya ke bruderan Budi Mulia Gunungsahari yang sekolahnya terkenal bagus. Saya tanya buku ajar yang menarik untuk mengajar membaca. Mereka punya, tapi harganya mahal. Saya bilang apa saya boleh minta. Berapa anak suster? Tigapuluh. Mereka kelihatan keberatan, maka saya bayar separo. Dengan peralatan yang cukup baik anak-anak makin senang belajar membaca, menulis dan menggambar. Orang tua mereka senang kalau anak-anak membawa pulang buku tulis dan hasil gambar mereka. Suatu hari sepulang dari gereja saya terkejut ada banyak polisi pamong praja. Ternyata gubuk gubuk itu telah diratakan dengan tanah. Saya sangat sedih. Saya tergerak untuk menampung mereka. Maka saya bicarakan maksud saya dengan komunitas. Mereka mengatakan suster mudah saja menampung mereka, namun sampai kapan? Nanti sulit mengeluarkan mereka dari rumah kita. Walau ibu komunitas, saya mendengarkan keberatan mereka. Saya masih menemukan beberapa anak dan terus mengajar mereka sampai saya dipindahkan ke Padang.
Di Padang pun banyak orang miskin. Saya sudah semakin tua, hanya mau berbagi pengalaman kecil. Saya hidup sangat hemat, sabun mandipun hampir tak pernah beli (karena saya dapat cukup banyak sabun setiap ulang tahun he he he), maka uang saku saya terkumpul lumayan. Dan setiap kali ada orang miskin yang membutuhkan saya beri mereka dari tabungan saya. Suatu hari datang kepada saya seorang mahasiswa minta tolong saya agar bisa membayar uang ujiannya Rp 15000,- . Dengan jujur ia mengatakan sudah mendapat Rp 3000,- dari perawat di depan. Saya masuk kamar lihat uang saya masih Rp 15000,-. Mau saya berikan Rp 12000,-. Tapi saya pikir mungkin dia butuh lain, tak baik memberi pas. Maka saya berikan semua. Dia sangat berterima kasih, tangan saya diciuminya. Esoknya setelah selesai ujian, dia datang lagi untuk ucapkan terimakasih berulang-ulang. Saya sangat bahagia, sumbangan kecil saya bagi dia sepertinya segunung hadiah.
Sr Alberta Telaumbanua SCMM (75 th) yang kini pensiun di rumah lansia dan provinsialat Medan mengisahkan pengalamannya mengamalkan belas kasih.
Waktu ditugaskan sebagai kepala asrama putri di Sibolga saya merangkap kerja di sekretariat keuskupan Sibolga. Di samping kesibukan itu, mata saya selalu melihat bila ada kemiskinan, khususnya di suatu kampung kumuh. Saya mengatakan kepada seorang umat yang kaya. Dia tertarik dan ingin tahu, maka saya mengajaknya melihat sendiri. Dia tergerak untuk menolong dengan memperbaiki beberapa rumah mereka selain beberapa pertolongan lain.
Kemudian waktu tugas di Pasaman sebagai ibu komunitas saya sering mengunjungi para transmigran miskin yang tinggal di desa-desa sekitar. Berkali kali saya terjatuh naik motor, beberapa tulang juga sempat patah, namun begitu sembuh saya pergi lagi kunjungi mereka. Pastor parokinya karena orang asing sulit untuk bisa berkomunikasi dengan mereka. Karena itu sangat mengharapkan agar saya bisa mengunjungi mereka, kadang dia mengantar saya dengan mobil. Dari kunjungan kunjungan itu saya mengetahui kebutuhan mereka, dan melaporkan kepada pastor paroki untuk dapat menolong mereka.
Waktu ditugaskan di Jakarta 1993-1998 saya menjadi ibu komunitas. Pastor paroki yang mengenal saya waktu di keuskupan Padang minta saya juga menjadi pengurus panti jompo. Saya agak keberatan karena akibat jatuh berkali-kali saya sulit untuk berjalan. Tapi dia tetap memaksa dan menjanjikan antar jemput. Saya sanggupi asal dia ijin kepada provincial kami. Provinsial setuju. Maka saya menjalan tugas itu dengan senang hati. Para jompo juga senang saya temani setiap pagi. Sore saya kembali ke komunitas. Dalam perjalanan pulang pergi itu saya beberapa kali menjumpai anak anak di jalan dekat rumah kami. Saya sapa mereka dan bertanya kenapa tak sekolah? Dengan polos mereka menjawab: orang tua kami tak punya biaya. Hati saya terusik, saya tanya sana sini apa yang kita bisa buat? Tak ada yang menanggapi. Setiap kali bertemu anak-anak saya tanya apakah mereka mau belajar. Mereka serempak menjawab: mau! Akhirnya saya berketetapan akan mengajar mereka sendiri. Saya ke gereja dan minta papan tulis yang tak terpakai. Pastor memberikannya. Saya bawa ke garasi kami. Saya mulai mengajak anak-anak belajar. Saya kunjungi orang tuanya di gubuk-gubuk dekat kompleks perumahan kami. Mereka senang sekali kalau anak-anak bisa belajar. Jumlahnya makin lama makin banyak. Jelas selain papan, dibutuhkan buku dan alat tulis untuk anak-anak. Saya tak kurang akal. Rumah jompo yang saya pimpin sering dikunjungi ibu-ibu donatur. Saya bilang mereka apa mau memberi buku dan alat tulis untuk anak anak miskin? Dengan senang hati mereka memberi. Saya pikir saya harus mengajar dengan kreatif. Saya bukan guru, walau pernah mengajar TK, dan menjadi ibu asrama, serta mengajar agama. Maka saya ke bruderan Budi Mulia Gunungsahari yang sekolahnya terkenal bagus. Saya tanya buku ajar yang menarik untuk mengajar membaca. Mereka punya, tapi harganya mahal. Saya bilang apa saya boleh minta. Berapa anak suster? Tigapuluh. Mereka kelihatan keberatan, maka saya bayar separo. Dengan peralatan yang cukup baik anak-anak makin senang belajar membaca, menulis dan menggambar. Orang tua mereka senang kalau anak-anak membawa pulang buku tulis dan hasil gambar mereka. Suatu hari sepulang dari gereja saya terkejut ada banyak polisi pamong praja. Ternyata gubuk gubuk itu telah diratakan dengan tanah. Saya sangat sedih. Saya tergerak untuk menampung mereka. Maka saya bicarakan maksud saya dengan komunitas. Mereka mengatakan suster mudah saja menampung mereka, namun sampai kapan? Nanti sulit mengeluarkan mereka dari rumah kita. Walau ibu komunitas, saya mendengarkan keberatan mereka. Saya masih menemukan beberapa anak dan terus mengajar mereka sampai saya dipindahkan ke Padang.
Di Padang pun banyak orang miskin. Saya sudah semakin tua, hanya mau berbagi pengalaman kecil. Saya hidup sangat hemat, sabun mandipun hampir tak pernah beli (karena saya dapat cukup banyak sabun setiap ulang tahun he he he), maka uang saku saya terkumpul lumayan. Dan setiap kali ada orang miskin yang membutuhkan saya beri mereka dari tabungan saya. Suatu hari datang kepada saya seorang mahasiswa minta tolong saya agar bisa membayar uang ujiannya Rp 15000,- . Dengan jujur ia mengatakan sudah mendapat Rp 3000,- dari perawat di depan. Saya masuk kamar lihat uang saya masih Rp 15000,-. Mau saya berikan Rp 12000,-. Tapi saya pikir mungkin dia butuh lain, tak baik memberi pas. Maka saya berikan semua. Dia sangat berterima kasih, tangan saya diciuminya. Esoknya setelah selesai ujian, dia datang lagi untuk ucapkan terimakasih berulang-ulang. Saya sangat bahagia, sumbangan kecil saya bagi dia sepertinya segunung hadiah.
Selasa, 03 Februari 2009
AKU INGIN PULANG
Mans Werang, CM
Diletakkan begitu saja bajunya di atas tumpukan kayu bakar. Segera ia mengambil beberapa pisang mentah dan dibakar di dalam tungku api yang sedang menyalah. Sambil menunggu pisang yang sedang dibakar, dia mengambil sebatang rokok dari saku celananya. Ia mengisap rokok itu dalam-dalam dan segera itu menghebuskan asap rokok itu keluar dari mulut dan hidungnya. Sepertinya memberikan kelegaan tersendiri bagi dirinya. Pandangan matanya terarah pada pisang mentah yang sedang dibakar, sesekali dibalikannya pisang itu dan dikeluarkannya dari tungku api setelah dilihat pisang itu sudah dapat dimakan. Ia bergegas ke sudut rumahnya mengambil sebuah piring yang sudah agak kumal, diletakkan pisang di atasnya dan dihidangkannya kepada saya. Raut wajahnya kelihatan sangat lelah dan capeh, tampak dari lingkaran hitam pada kedua bola matanya. Namun ia tetap memberi senyum kepadaku. Itulah bapak Andreas, wajah seorang pengungsi dari Papua Barat.
Sudah sepuluh tahun kami tinggal di Papua New Guinea, tetapi kehidupan kami tidak pernah berubah, malah mengenaskan. Sejak kami datang ke tempat ini, lahan tanah tidak pernah kami miliki, selain pekarangan di sekitar rumah yang tidak dapat ditanam karena kondisi tanahnya. Kata bapak Andreas kepadaku. Sebenarnya kami diberi tanah tetapi masih dalam kepemilikan tuan tanah. Kami tidak dapat menanam apapun juga. Kalaupun kami menanam sesuatu pasti akan diambil semuanya oleh tuan tanah.
Kepastian Hidup
Saat kami keluar dari Papua barat menuju Papua New Guinea sebenarnya kami tidak mengetahui dengan pasti persoalan politik apa yang sedang terjadi. Kami hanya mendengar bahwa kami akan merdeka, tetapi merdeka dari apa? Kamipun tidak pernah mengetahui dengan pasti. Tetapi satu hal ini yang tidak pernah kami lupakan adalah perlakukan yang sangat tidak manusiawi dari pihak-pihak penguasa. Kami ditekan, dipaksa, bahkan kami hidup dalam ketakutan di kampung kami sendiri. Kami merasa takut di tanah yang merupakan warisan dari leluhur kami. Dalam suasana kepanikan, dan ketakutan, kami meninggalkan tanah dan semua warisan dari nenek moyang kami. Kini tanah itu sudah bukan milik kami lagi. Ketika kami tiba di PNG, kami mendapat janji dari pemerintah bahwa mereka akan memberikan tempat yang layak bagi kami, dan memperhatikan hak-hak kami. Namun kenyataan itu tidak pernah kami alami, justru pengalaman-pengalaman pahit yang kami alami. Semua tanah di daerah tempat kami tinggal sekarang ini adalah milik tuan tanah. Sewaktu-waktu tanah ini dapat diambil oleh tuan tanah, dan pemerintah PNG sepertinya tidak memiliki kewibahan untuk menghadapi tuan tanah. Kami tidak dapat menggunakan tanah itu untuk berkebun. Bahkan bukan hanya keluarga kami saja, tetapi semua pengungsi yang mendiami tanah disini adalah milik tuan tanah yakni penduduk asli. Jika kami diberi tanah, luasnya tanah itu hanya sepetak saja. Bila kami membuat bisnis kecil-kecilan untuk perbaikan ekonomi rumah tangga, kami akan diprotes oleh mereka. Katanya lebih lanjut kepadaku. Saya hanya mendengarkan kisahnya dan memilih diam saja, saat dia menceritakan kehidupannya. Mungkin ini yang dapat saya lakukan, menyediakan hati untuk mendengarkan kisah kehidupannya.
Hidup sebagai pengungsi bukanlah sesuatu yang gampang, seperti halnya yang dialami oleh keluarga Bapak Andreas. Mereka hidup dalam ketidakpastian. Meskipun mereka tinggal di Papua New Guinea sekian tahun, tetapi mereka masih dianggap sebagai orang asing, dan imbas dari itu kadangkala hak asasi mereka tidak pernah dihargai. Mereka dilihat sebagai orang yang membawa masalah, bukan sebagai pribadi. Mendiang Paus Yohanes Paulus II, saat merayakan hari buruh migran dan para pengungsi, 2005 di dalam pesannya, beliau mengatakan bahwa pentingnya integrasi diantara orang-orang untuk memperkokoh identitas para pengungsi dan buruh migran dan pengakuan hak asasi mereka melalui diolog, keramahtamahan, serta mengembangkan semangat solidaritas sehingga mereka dapat bertumbuh kembang. Seruan mendiang Paus Yohanes Paulus II ini masih memiliki gemah yang mendalam sampai saat ini ketika melihat ribuan bahkan jutaan pengungsi yang hak-hak asasi mereka tidak dihargai sebagai manusia. Kisah dari Ruwanda, Tutsi, Ethiophia, Gasa, Iran, Sidoarjo adalah contoh lain dari wajah-wajah para pengungsi yang hak asasi mereka tidak pernah dihargai. Mereka seperti orang asing yang tidak menemukan kepastian pengalaman hidup mereka di masa mendatang. Hari esok seperti hari-hari yang penuh kegelapan, karena mereka melangkah dalam ketidakpastian. Mereka mendengar dan menerima janji, tetapi janji seperti pemanis bagi kehidupan mereka. Kisah pengungsi di Sidoarjo adalah contohnya, betapa hari-hari hidup mereka diwarnai dengan ketidakpastian, karena janji untuk perbaikan kesejahteraan tidak pernah terpenuhi, bahkan hidup mereka kian hari semakin tidak menentu. Untuk tidak mengatakan hak-hak asasi mereka semakin tidak diapresiasi sebagai manusia. Mereka dipaksa untuk meninggalkan tanah warisan mereka dengan janji ganti rugi, namun pada akhirnya ganti rugi sangat merugikan para pengungsi.
Menjadi rasul cinta
Paus Benediktus XV1, di dalam pesannya saat merayakan hari para migran dan para pengungsi sedunia yang ke-95, memilih tema “St.Paul migrant, Apostle of the peoples, 18 January 2008. Rasul Paulus lahir di dalam sebuah keluarga imigran Yahudi di Tarsus, Cicilia, ia didik di Ibrani, dalam budaya dan bahasa Yunani. Sesudah pengalaman berjumpaannya dengan Yesus di jalan Damaskus, dia mengabdikan dirinya tanpa ragu-ragu pada misinya yang baru dengan keberanian dan entusiasme, serta patuh pada perintah Tuhan. Hidupnya berubah secara radikal. Jesus menjadikan hidupnya “raisaon d’etre and motivosi yang menginspirasikan karya kerasulannya untuk pewartaan Injil. Ia berubah dari penganiyaya orang kristiani menjadi rasul Tuhan Yesus. Paulus didalam karya perutusannya melihat Injil sebagai kekuatan Allah bagi keselamatan setiap orang yang memiliki iman baik orang Yahudi maupun orang Yunani. Ia menyebut dirinya sebagai “Missionary to migrants”, ketika karya pewartaannya ditolak oleh orang Yahudi. Hidup dan pewartaannya membuat Yesus dikenal dan dicintai oleh banyak orang. Inilah semangat missioner dari Santo Paulus.
Paus Benediktus XVI di dalam suratnya menyebutkan bahwa semangat missioner adalah semangat dari setiap orang yang dibaptis. Semangat missioner ditunjukan melalui keberpihakkan dan perhatiannya pada kaum imigran, pengungsi, orang-orang yang tidak memiliki rumah, termasuk korban dari bentuk penindasan modern. Paus Benediktus menegaskan bahwa berhadapan dengan perubahan budaya, sosial dan tantangan-tantangan lainnya, semangat Santo Paulus harus menjadi jiwa dari setiap orang kristiani yakni mengembangkan semangat solidaritas dengan saudara-saudari yang menderita, dan ikut menciptakan lingkungan yang damai diantara budaya, agama dan manusia.
Kerinduan yang besar
Sebulan kemudian saat saya datang ke kota, saya bertemu dengan bapak Andreas. Ia mengatakan kepadaku bahwa dia ingin pulang ke tanah asalnya, karena tanah warisan dari nenek moyangnya adalah tanah yang menjanjikan dan memberikan kebahagian daripada di tempat ini. Ia memiliki bakat, keterampilan, tetapi ia ingin membangun dan mengembangkan kehidupan yang lebih baik di daerahnya, bukan di negeri orang. Tidak ada kebahagian yang lebih besar, selain pergi dan membangun kehidupan yang lebih baik di tanah sendiri, daripada di tanah milik orang lain. Di negara PNG kami tidak pernah diakui hak-hak kami; kami hanya dilihat sebagai masalah bukan sebagai pribadi. Maka jalan yang paling baik adalah kembali ke kampung halaman kami dan membangun kembali kampung halaman kami menjadi lebih baik seperti waktu kami masih berada di sana. Tetapi bagaimana dengan tanah warisanmu yang ada di sana? Apakah masih menjadi hakmu, setelah sekian lama kamu tinggalkan? Tanyaku lebih lanjut kepadanya. Ia tidak menjawab dengan segera pertanyaanku. Air matanya membasah pipinya, karena dia ingat bahwa beberapa tahun yang lalu ketika dia ke tempat asalnya untuk mengunjungi saudara-saudarinya mereka mengatakan kepada dia bahwa tanah yang dahulu dibangga-banggakan kini tidak pernah ditempati lagi, karena mereka mendapat tekanan dari banyak pihak, dicurigai, dituduh sebagai orang yang bekerjasama dengan kelompok pro kemerdekaan Papua. Padahal kami ini adalah masyarakat sederhana yang tidak pernah mengerti tentang peta politik. Yang kami rindukan adalah kelak kami dapat pulang lagi ke tanah yang telah melahirkan, yang telah memberikan kehidupan bagi kami. Di tanah itu kami merasa hidup itu menjadi lebih berarti karena tinggal bersama sebagai saudara-saudari, diterima, dihargai sebagai pribadi dan bukan dilihat sebagai masalah. Ia berkata kepadaku bahwa dia hanya ingin pulang melihat kampung halamannya, karena disanalah dia mendapat kekuatan dan kegembiraan melihat saudara-saudarinya di Papua Barat.
Ketika dia pamit dan meninggalkanku, pandanganku terarah kepada pengalaman orang Israel saat mereka berada di tepi sungai Babylon. Mungkinkah orang-orang pengungsi adalah orang-orang yang berada di tepi sungai Babilon yang tidak dapat menyanyikan kidung di negeri orang? Mereka hanya ingin menyanyikan kidung di tanah warisan nenek moyang mereka, di tanah yang memungkinkan mereka merasa dihormati, dan dihargai. Mungkin mereka hanya duduk menangis, karena mereka tidak pernah tahu dengan pasti kapan mereka pulang? Mereka juga merasa lelah dan capeh karena stigmatisasi dari masyarakat terhadap mereka sebagai pembawa persoalan dan bukan sebagai pribadi. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Tatakala kuceritakan kisah ini kepada Romo Gros, CM, beliau hanya mengatakan kepadaku hadirlah bersama mereka melalui pembinaan manusiawi dan iman untuk melihat secercah harapan di masa yang akan datang. Mungkin ini pesan solidaritas yang sederhana menjadi rasul cinta seperti Santo Paulus.
Diletakkan begitu saja bajunya di atas tumpukan kayu bakar. Segera ia mengambil beberapa pisang mentah dan dibakar di dalam tungku api yang sedang menyalah. Sambil menunggu pisang yang sedang dibakar, dia mengambil sebatang rokok dari saku celananya. Ia mengisap rokok itu dalam-dalam dan segera itu menghebuskan asap rokok itu keluar dari mulut dan hidungnya. Sepertinya memberikan kelegaan tersendiri bagi dirinya. Pandangan matanya terarah pada pisang mentah yang sedang dibakar, sesekali dibalikannya pisang itu dan dikeluarkannya dari tungku api setelah dilihat pisang itu sudah dapat dimakan. Ia bergegas ke sudut rumahnya mengambil sebuah piring yang sudah agak kumal, diletakkan pisang di atasnya dan dihidangkannya kepada saya. Raut wajahnya kelihatan sangat lelah dan capeh, tampak dari lingkaran hitam pada kedua bola matanya. Namun ia tetap memberi senyum kepadaku. Itulah bapak Andreas, wajah seorang pengungsi dari Papua Barat.
Sudah sepuluh tahun kami tinggal di Papua New Guinea, tetapi kehidupan kami tidak pernah berubah, malah mengenaskan. Sejak kami datang ke tempat ini, lahan tanah tidak pernah kami miliki, selain pekarangan di sekitar rumah yang tidak dapat ditanam karena kondisi tanahnya. Kata bapak Andreas kepadaku. Sebenarnya kami diberi tanah tetapi masih dalam kepemilikan tuan tanah. Kami tidak dapat menanam apapun juga. Kalaupun kami menanam sesuatu pasti akan diambil semuanya oleh tuan tanah.
Kepastian Hidup
Saat kami keluar dari Papua barat menuju Papua New Guinea sebenarnya kami tidak mengetahui dengan pasti persoalan politik apa yang sedang terjadi. Kami hanya mendengar bahwa kami akan merdeka, tetapi merdeka dari apa? Kamipun tidak pernah mengetahui dengan pasti. Tetapi satu hal ini yang tidak pernah kami lupakan adalah perlakukan yang sangat tidak manusiawi dari pihak-pihak penguasa. Kami ditekan, dipaksa, bahkan kami hidup dalam ketakutan di kampung kami sendiri. Kami merasa takut di tanah yang merupakan warisan dari leluhur kami. Dalam suasana kepanikan, dan ketakutan, kami meninggalkan tanah dan semua warisan dari nenek moyang kami. Kini tanah itu sudah bukan milik kami lagi. Ketika kami tiba di PNG, kami mendapat janji dari pemerintah bahwa mereka akan memberikan tempat yang layak bagi kami, dan memperhatikan hak-hak kami. Namun kenyataan itu tidak pernah kami alami, justru pengalaman-pengalaman pahit yang kami alami. Semua tanah di daerah tempat kami tinggal sekarang ini adalah milik tuan tanah. Sewaktu-waktu tanah ini dapat diambil oleh tuan tanah, dan pemerintah PNG sepertinya tidak memiliki kewibahan untuk menghadapi tuan tanah. Kami tidak dapat menggunakan tanah itu untuk berkebun. Bahkan bukan hanya keluarga kami saja, tetapi semua pengungsi yang mendiami tanah disini adalah milik tuan tanah yakni penduduk asli. Jika kami diberi tanah, luasnya tanah itu hanya sepetak saja. Bila kami membuat bisnis kecil-kecilan untuk perbaikan ekonomi rumah tangga, kami akan diprotes oleh mereka. Katanya lebih lanjut kepadaku. Saya hanya mendengarkan kisahnya dan memilih diam saja, saat dia menceritakan kehidupannya. Mungkin ini yang dapat saya lakukan, menyediakan hati untuk mendengarkan kisah kehidupannya.
Hidup sebagai pengungsi bukanlah sesuatu yang gampang, seperti halnya yang dialami oleh keluarga Bapak Andreas. Mereka hidup dalam ketidakpastian. Meskipun mereka tinggal di Papua New Guinea sekian tahun, tetapi mereka masih dianggap sebagai orang asing, dan imbas dari itu kadangkala hak asasi mereka tidak pernah dihargai. Mereka dilihat sebagai orang yang membawa masalah, bukan sebagai pribadi. Mendiang Paus Yohanes Paulus II, saat merayakan hari buruh migran dan para pengungsi, 2005 di dalam pesannya, beliau mengatakan bahwa pentingnya integrasi diantara orang-orang untuk memperkokoh identitas para pengungsi dan buruh migran dan pengakuan hak asasi mereka melalui diolog, keramahtamahan, serta mengembangkan semangat solidaritas sehingga mereka dapat bertumbuh kembang. Seruan mendiang Paus Yohanes Paulus II ini masih memiliki gemah yang mendalam sampai saat ini ketika melihat ribuan bahkan jutaan pengungsi yang hak-hak asasi mereka tidak dihargai sebagai manusia. Kisah dari Ruwanda, Tutsi, Ethiophia, Gasa, Iran, Sidoarjo adalah contoh lain dari wajah-wajah para pengungsi yang hak asasi mereka tidak pernah dihargai. Mereka seperti orang asing yang tidak menemukan kepastian pengalaman hidup mereka di masa mendatang. Hari esok seperti hari-hari yang penuh kegelapan, karena mereka melangkah dalam ketidakpastian. Mereka mendengar dan menerima janji, tetapi janji seperti pemanis bagi kehidupan mereka. Kisah pengungsi di Sidoarjo adalah contohnya, betapa hari-hari hidup mereka diwarnai dengan ketidakpastian, karena janji untuk perbaikan kesejahteraan tidak pernah terpenuhi, bahkan hidup mereka kian hari semakin tidak menentu. Untuk tidak mengatakan hak-hak asasi mereka semakin tidak diapresiasi sebagai manusia. Mereka dipaksa untuk meninggalkan tanah warisan mereka dengan janji ganti rugi, namun pada akhirnya ganti rugi sangat merugikan para pengungsi.
Menjadi rasul cinta
Paus Benediktus XV1, di dalam pesannya saat merayakan hari para migran dan para pengungsi sedunia yang ke-95, memilih tema “St.Paul migrant, Apostle of the peoples, 18 January 2008. Rasul Paulus lahir di dalam sebuah keluarga imigran Yahudi di Tarsus, Cicilia, ia didik di Ibrani, dalam budaya dan bahasa Yunani. Sesudah pengalaman berjumpaannya dengan Yesus di jalan Damaskus, dia mengabdikan dirinya tanpa ragu-ragu pada misinya yang baru dengan keberanian dan entusiasme, serta patuh pada perintah Tuhan. Hidupnya berubah secara radikal. Jesus menjadikan hidupnya “raisaon d’etre and motivosi yang menginspirasikan karya kerasulannya untuk pewartaan Injil. Ia berubah dari penganiyaya orang kristiani menjadi rasul Tuhan Yesus. Paulus didalam karya perutusannya melihat Injil sebagai kekuatan Allah bagi keselamatan setiap orang yang memiliki iman baik orang Yahudi maupun orang Yunani. Ia menyebut dirinya sebagai “Missionary to migrants”, ketika karya pewartaannya ditolak oleh orang Yahudi. Hidup dan pewartaannya membuat Yesus dikenal dan dicintai oleh banyak orang. Inilah semangat missioner dari Santo Paulus.
Paus Benediktus XVI di dalam suratnya menyebutkan bahwa semangat missioner adalah semangat dari setiap orang yang dibaptis. Semangat missioner ditunjukan melalui keberpihakkan dan perhatiannya pada kaum imigran, pengungsi, orang-orang yang tidak memiliki rumah, termasuk korban dari bentuk penindasan modern. Paus Benediktus menegaskan bahwa berhadapan dengan perubahan budaya, sosial dan tantangan-tantangan lainnya, semangat Santo Paulus harus menjadi jiwa dari setiap orang kristiani yakni mengembangkan semangat solidaritas dengan saudara-saudari yang menderita, dan ikut menciptakan lingkungan yang damai diantara budaya, agama dan manusia.
Kerinduan yang besar
Sebulan kemudian saat saya datang ke kota, saya bertemu dengan bapak Andreas. Ia mengatakan kepadaku bahwa dia ingin pulang ke tanah asalnya, karena tanah warisan dari nenek moyangnya adalah tanah yang menjanjikan dan memberikan kebahagian daripada di tempat ini. Ia memiliki bakat, keterampilan, tetapi ia ingin membangun dan mengembangkan kehidupan yang lebih baik di daerahnya, bukan di negeri orang. Tidak ada kebahagian yang lebih besar, selain pergi dan membangun kehidupan yang lebih baik di tanah sendiri, daripada di tanah milik orang lain. Di negara PNG kami tidak pernah diakui hak-hak kami; kami hanya dilihat sebagai masalah bukan sebagai pribadi. Maka jalan yang paling baik adalah kembali ke kampung halaman kami dan membangun kembali kampung halaman kami menjadi lebih baik seperti waktu kami masih berada di sana. Tetapi bagaimana dengan tanah warisanmu yang ada di sana? Apakah masih menjadi hakmu, setelah sekian lama kamu tinggalkan? Tanyaku lebih lanjut kepadanya. Ia tidak menjawab dengan segera pertanyaanku. Air matanya membasah pipinya, karena dia ingat bahwa beberapa tahun yang lalu ketika dia ke tempat asalnya untuk mengunjungi saudara-saudarinya mereka mengatakan kepada dia bahwa tanah yang dahulu dibangga-banggakan kini tidak pernah ditempati lagi, karena mereka mendapat tekanan dari banyak pihak, dicurigai, dituduh sebagai orang yang bekerjasama dengan kelompok pro kemerdekaan Papua. Padahal kami ini adalah masyarakat sederhana yang tidak pernah mengerti tentang peta politik. Yang kami rindukan adalah kelak kami dapat pulang lagi ke tanah yang telah melahirkan, yang telah memberikan kehidupan bagi kami. Di tanah itu kami merasa hidup itu menjadi lebih berarti karena tinggal bersama sebagai saudara-saudari, diterima, dihargai sebagai pribadi dan bukan dilihat sebagai masalah. Ia berkata kepadaku bahwa dia hanya ingin pulang melihat kampung halamannya, karena disanalah dia mendapat kekuatan dan kegembiraan melihat saudara-saudarinya di Papua Barat.
Ketika dia pamit dan meninggalkanku, pandanganku terarah kepada pengalaman orang Israel saat mereka berada di tepi sungai Babylon. Mungkinkah orang-orang pengungsi adalah orang-orang yang berada di tepi sungai Babilon yang tidak dapat menyanyikan kidung di negeri orang? Mereka hanya ingin menyanyikan kidung di tanah warisan nenek moyang mereka, di tanah yang memungkinkan mereka merasa dihormati, dan dihargai. Mungkin mereka hanya duduk menangis, karena mereka tidak pernah tahu dengan pasti kapan mereka pulang? Mereka juga merasa lelah dan capeh karena stigmatisasi dari masyarakat terhadap mereka sebagai pembawa persoalan dan bukan sebagai pribadi. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Tatakala kuceritakan kisah ini kepada Romo Gros, CM, beliau hanya mengatakan kepadaku hadirlah bersama mereka melalui pembinaan manusiawi dan iman untuk melihat secercah harapan di masa yang akan datang. Mungkin ini pesan solidaritas yang sederhana menjadi rasul cinta seperti Santo Paulus.
Kamis, 08 Januari 2009
POLITIK TANPA ETIKA: APAKAH MASIH LEGITIM?
Perseteruan antara Israel dan Palestina tanpa dapat disangkal oleh siapa pun ternyata menyisakan duka, kecemasan, keprihatinan, dan kengerian yang sangat mendalam. Bagi kita yang hanya dapat mengikuti peristiwa itu dari berita, foto dalam Jawa Pos edisi Selasa, 6 Januari 2009, pada halaman paling depan, dapat menjadi sumber untuk menilai betapa kejamnya perseteruan itu. Sebuah fakta yang menampilkan sebuah pemandangan yang sangat memprihatinkan. Seorang bapak yang ditenangkan oleh kerabatnya setelah menyaksikan ketiga anaknya yang masih balita tewas akibat serangan tentara Israel. Pemandangan ini jauh lebih mengerikan ketimbang dentuman bom, atau letupan senjata berapi.
Sangat memprihatinkan dan mengerikan karena pemandangan itu merupakan cermin yang paling nyata semakin tidak berharganya manusia di satu sisi, dan ambruknya pondasi dan citra moral manusia di sisi lain. Fenomena ini sekaligus merupakan representasi yang sangat jelas bahwa politik dan kekuasaan tidak lagi diintesikan untuk mengabdi manusia, sebaliknya manusialah yang harus mengabdi politik dan kekuasaan. Jika logika semacam ini dikembangkan, maka citra manusia tidak akan lebih dari sebuah “barang” tidak berharga yang bisa diperalat untuk mempertahankan politik dan kekuasaan, sekalipun itu harus ditempuh dengan mengorbankan jiwa-jiwa yang tidak berdosa dan menghalalkan segala cara.
Apakah skema penjabaran politik dan kekuasaan semacam ini legitim? Kalau kita berpedoman pada apa yang dipikirkan oleh Machiaveli maka fenomena pengejawantahan politik dan kekuasaan seperti yang saat ini diterapkan oleh Israel adalah sah. Sah karena bagi Machiaveli, seorang filosof yang merupakan salah satu pendiri filsafat politik modern ini, politik harus terpisah dari etika. Politik merupakan ranah yang incompatible dengan etika. Politik memiliki hukum dan keutamaannya sendiri, yang berbeda dengan hukum dan keutamaan yang dikedepankan oleh etika. Etika lebih mengedepankan perihal bagaimana manusia dapat hidup dengan baik sesuai dengan tatanan, kaidah-kaidah, dan nilai-nilai manusiawi. Sedangkan politik adalah ranah yang berurusan dengan soal bagaimana seorang penguasa menata negaranya, membela dan mempertahankan kekuasaannya, menjaga stabilitas keamanan negaranya, dan membela kepentingan rakyatnya sendiri.
Machiaveli setuju dan mengakui bahwa etika dengan segala artibut keutamaannya adalah sesuatu yang baik, terpuji dan luhur. Akan tetapi politik bukanlah persoalan yang dapat digandengkan atau bahkan disatukan dengan dunia etika. Jika seorang penguasa berani menempatkan etika di atas pertimbangan politis, maka pada saat itu juga dia harus siap dengan konsekuensi kehancuran kekuasaannya. Dalam tataran real, tidak satu pun penguasa menghendaki kehancuran kekuasaannya. Atau kehancuran negaranya. Karenanya seorang penguasa harus berani menyingkirkan pertimbangan-pertimbangan etis demi keutuhan negara dan kekuasaannya.
Itulah Machiaveli. Mari sekarang kita merunut pendapat yang memiliki nada yang berbeda. Aristoteles ternyata memiliki pendapat yang berbeda dengan Machiaveli. Aristoteles, yang dikenal sebagai filosof klasik, berpendapat bahwa politik memiliki relasi yang tak terpisahkan dari etika. Berbeda dengan Machiaveli yang memisahkan antara politik dan etika, Aristoteles justru berpendapat bahwa politik sangat mengandaikan etika. Etika merupakan dasar dari pengembaraan dan penjabaran politik. Dasar dari tesis ini adalah kodrat manusia. Manusia dari kodratnya adalah makluk sosial atau makluk politik atau makluk yang hidup bersama dengan manusia lain. Definisi ini sekaligus hendak mengatakan bahwa hidup dalam kebersamaan dengan manusia lain merupakan representasi dari kesempurnaan jati diri manusia. Kesempurnaan manusia tercermin pada relasi harmonis dengan sesamanya. Bertolak dari kenyataan ini, Aristoteles berpendapat bahwa setiap tindakan yang berusaha merusak dan menghancurkan sesamanya merupakan tindakan yang tidak hanya kejam, melainkan juga tindakan yang bertentangan dengan kodrat manusia.
Dalam konteks ini yang menjadi tugas negara atau pemerintah adalah mengupayakan hidup dan berkembangnya relasi antar manusia. Tidak hanya agar tidak terjadi peperangan dan pertumpahan darah, melainkan terutama agar setiap manusia dimungkinkan untuk merealisasikan kesempurnaan dirinya. Disinilah terletak ukuran legitimasi sebuah kekuasaan pemerintahan atau negara. Menurut Aristoteles, sebuah kekuasaan dapat dikatakan legitim jika mengedepankan kaidah-kaidah kebenaran etis yang meniscayakan setiap manusia bertumbuh kembang dan menjadi sempurna dalam jalinan hubungan antar manusia.
Sangat memprihatinkan dan mengerikan karena pemandangan itu merupakan cermin yang paling nyata semakin tidak berharganya manusia di satu sisi, dan ambruknya pondasi dan citra moral manusia di sisi lain. Fenomena ini sekaligus merupakan representasi yang sangat jelas bahwa politik dan kekuasaan tidak lagi diintesikan untuk mengabdi manusia, sebaliknya manusialah yang harus mengabdi politik dan kekuasaan. Jika logika semacam ini dikembangkan, maka citra manusia tidak akan lebih dari sebuah “barang” tidak berharga yang bisa diperalat untuk mempertahankan politik dan kekuasaan, sekalipun itu harus ditempuh dengan mengorbankan jiwa-jiwa yang tidak berdosa dan menghalalkan segala cara.
Apakah skema penjabaran politik dan kekuasaan semacam ini legitim? Kalau kita berpedoman pada apa yang dipikirkan oleh Machiaveli maka fenomena pengejawantahan politik dan kekuasaan seperti yang saat ini diterapkan oleh Israel adalah sah. Sah karena bagi Machiaveli, seorang filosof yang merupakan salah satu pendiri filsafat politik modern ini, politik harus terpisah dari etika. Politik merupakan ranah yang incompatible dengan etika. Politik memiliki hukum dan keutamaannya sendiri, yang berbeda dengan hukum dan keutamaan yang dikedepankan oleh etika. Etika lebih mengedepankan perihal bagaimana manusia dapat hidup dengan baik sesuai dengan tatanan, kaidah-kaidah, dan nilai-nilai manusiawi. Sedangkan politik adalah ranah yang berurusan dengan soal bagaimana seorang penguasa menata negaranya, membela dan mempertahankan kekuasaannya, menjaga stabilitas keamanan negaranya, dan membela kepentingan rakyatnya sendiri.
Machiaveli setuju dan mengakui bahwa etika dengan segala artibut keutamaannya adalah sesuatu yang baik, terpuji dan luhur. Akan tetapi politik bukanlah persoalan yang dapat digandengkan atau bahkan disatukan dengan dunia etika. Jika seorang penguasa berani menempatkan etika di atas pertimbangan politis, maka pada saat itu juga dia harus siap dengan konsekuensi kehancuran kekuasaannya. Dalam tataran real, tidak satu pun penguasa menghendaki kehancuran kekuasaannya. Atau kehancuran negaranya. Karenanya seorang penguasa harus berani menyingkirkan pertimbangan-pertimbangan etis demi keutuhan negara dan kekuasaannya.
Itulah Machiaveli. Mari sekarang kita merunut pendapat yang memiliki nada yang berbeda. Aristoteles ternyata memiliki pendapat yang berbeda dengan Machiaveli. Aristoteles, yang dikenal sebagai filosof klasik, berpendapat bahwa politik memiliki relasi yang tak terpisahkan dari etika. Berbeda dengan Machiaveli yang memisahkan antara politik dan etika, Aristoteles justru berpendapat bahwa politik sangat mengandaikan etika. Etika merupakan dasar dari pengembaraan dan penjabaran politik. Dasar dari tesis ini adalah kodrat manusia. Manusia dari kodratnya adalah makluk sosial atau makluk politik atau makluk yang hidup bersama dengan manusia lain. Definisi ini sekaligus hendak mengatakan bahwa hidup dalam kebersamaan dengan manusia lain merupakan representasi dari kesempurnaan jati diri manusia. Kesempurnaan manusia tercermin pada relasi harmonis dengan sesamanya. Bertolak dari kenyataan ini, Aristoteles berpendapat bahwa setiap tindakan yang berusaha merusak dan menghancurkan sesamanya merupakan tindakan yang tidak hanya kejam, melainkan juga tindakan yang bertentangan dengan kodrat manusia.
Dalam konteks ini yang menjadi tugas negara atau pemerintah adalah mengupayakan hidup dan berkembangnya relasi antar manusia. Tidak hanya agar tidak terjadi peperangan dan pertumpahan darah, melainkan terutama agar setiap manusia dimungkinkan untuk merealisasikan kesempurnaan dirinya. Disinilah terletak ukuran legitimasi sebuah kekuasaan pemerintahan atau negara. Menurut Aristoteles, sebuah kekuasaan dapat dikatakan legitim jika mengedepankan kaidah-kaidah kebenaran etis yang meniscayakan setiap manusia bertumbuh kembang dan menjadi sempurna dalam jalinan hubungan antar manusia.
Langganan:
Postingan (Atom)